Padahal, ridha tidak bisa dibeli, hanya bisa diraih melalui keikhlasan dan kerendahan hati.
Salah satu kisah yang sering dikutip ulama adalah tentang Alqamah, sahabat Rasulullah SAW yang dikenal rajin beribadah. Namun menjelang wafat, ia kesulitan mengucapkan syahadat.
Ketika Rasulullah SAW menanyakan sebabnya, diketahui bahwa ibunya masih marah karena Alqamah pernah mengutamakan istrinya di atas ibunya.
Rasulullah kemudian meminta sang ibu memaafkan. Setelah ia ridha, barulah Alqamah bisa mengucapkan syahadat dengan tenang.
Baca Juga: Napak Tilas Wali Songo, Destinasi Religi Paling Ramai
IFA.id menulis, kisah ini menjadi pengingat kuat bahwa keridhaan orang tua bahkan memengaruhi akhir kehidupan seseorang.
Tanpa restu mereka, ibadah sehebat apa pun bisa kehilangan cahayanya.
IFA.id menulis dalam catatan reflektifnya, bahwa ridha orang tua bukan hanya hubungan satu arah.Ketika anak berbuat baik, hati orang tua pun melembut, dan doa mereka mengalir tanpa diminta. Sebaliknya, ketika anak keras hati, doa itu bisa tertahan — bukan karena kebencian, tapi karena luka yang belum disembuhkan.
Maka tugas anak bukan hanya mencari ridha, tapi juga menjaga agar hati orang tua tetap bahagia. Sebab ridha itu tidak diucapkan lewat kata, tapi dirasakan lewat senyum dan ketenangan wajah mereka.
Baca Juga: Doa Setelah Sholat untuk Ampunan Dosa dan Ketenteraman Hati
IFA.id menutup artikel ini dengan renungan mendalam:
Manusia bisa menempuh banyak jalan menuju surga — lewat ilmu, amal, sedekah, dan ibadah. Tapi ada satu jalan yang paling dekat, paling tulus, dan paling penuh cinta: ridha orang tua.