Berdasarkan riset dan wawancara dengan berbagai tokoh agama dan psikolog keluarga, IFA.id merangkum empat tantangan utama bakti di era digital:
Baca Juga: Kurban Digital 2025: Tren Baru Anak Muda Berbagi
-
Waktu yang Tersedot oleh Dunia Maya
Anak-anak sering kali lebih akrab dengan konten hiburan dibanding dengan kisah hidup orang tuanya. Padahal, setiap kisah mereka adalah pelajaran kehidupan yang tak tergantikan. -
Komunikasi yang Terlalu Cepat dan Dangkal
“Apa kabar, Bu?” di pesan singkat tak sebanding dengan duduk berdampingan sambil mendengarkan cerita. -
Gaya Hidup Individualistik
Teknologi menciptakan “ruang pribadi” yang besar, sering kali membuat anak lupa bahwa hidupnya adalah bagian dari kisah keluarga yang lebih luas. -
Kehilangan Rasa Takzim
Dalam interaksi digital, adab sering kali memudar. Anak mudah mengirim pesan tanpa salam, tanpa sopan santun.
Padahal, Islam mengajarkan adab bahkan dalam sekadar berbicara.
IFA.id menemukan kisah menarik dari Bandung. Seorang mahasiswa bernama Amir memutuskan untuk menonaktifkan media sosial setiap Jumat sore. Alasannya sederhana: hari itu ia ingin menghabiskan waktu dengan ibunya.
Baca Juga: Harga Hewan Kurban Naik, Bagaimana Respons Jamaah?
Ia membantu memasak, mendengarkan cerita masa muda ibunya, dan menyiapkan teh sore bersama. “Awalnya terasa aneh tanpa ponsel, tapi ternyata justru di situlah kebahagiaan sederhana muncul,” ujarnya kepada IFA.id.
IFA.id menutup artikel ini dengan kalimat yang sederhana tapi menggetarkan:
Di balik setiap layar yang menyala, ada wajah orang tua yang menunggu untuk disapa.
Teknologi boleh maju, tapi hati harus tetap peka.
Bakti tidak pernah usang, karena ia adalah bagian dari iman.