tafaquh

Ketika Layar Ponsel Mulai Menggeser Wajah Orang Tua

Sabtu, 4 Oktober 2025 | 16:52 WIB
Ketika dunia semakin terhubung secara digital, jangan sampai hati menjadi terputus dari doa dan kasih sayang orang tua. (Foto/Ilustrasi)

IFA.Id - Suatu sore di sebuah kafe di Jakarta, IFA.id memperhatikan pemandangan yang kian lazim: seorang anak muda duduk berseberangan dengan ibunya, tapi sepanjang waktu matanya terpaku pada layar ponsel. Sang ibu tersenyum kecil, sesekali menatap ke arah anaknya, namun tak banyak kata terucap.

Pemandangan ini mungkin terasa biasa, namun di dalamnya tersimpan ironi zaman. Dunia digital memudahkan manusia untuk terhubung ke mana-mana, kecuali… kepada orang tua yang ada tepat di depan mata.

IFA.id mencatat, Islam tak pernah menolak kemajuan. Teknologi adalah alat, bukan musuh. Namun, setiap alat membawa ujian tersendiri. Dalam Surah Al-Ashr, Allah mengingatkan manusia tentang waktu yang terus berlalu dan hilang sia-sia, kecuali bagi mereka yang beriman dan beramal saleh.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan.”
(QS. Al-Ashr: 1-3)

Baca Juga: Rahasia Keutamaan Doa Setelah Sholat Wajib yang Jarang Dibahas

Dalam konteks modern, waktu yang hilang bukan karena peperangan atau bencana, tapi karena scrolling tanpa arah.
IFA.id menegaskan: di sinilah tantangan bakti dimulai — ketika waktu bersama orang tua kalah oleh waktu menatap layar.

Menurut survei Digital Indonesia Report 2024, rata-rata orang Indonesia menghabiskan lebih dari 8 jam per hari di depan layar. Sementara, waktu rata-rata untuk berbicara langsung dengan orang tua hanya sekitar 15 menit sehari.

Angka ini menunjukkan jurang emosional yang kian melebar. Anak-anak kini lebih sering mengirim stiker di WhatsApp ketimbang mencium tangan orang tuanya.
IFA.id mencatat bahwa keintiman digital sering kali menggantikan kehadiran fisik, padahal kasih sayang sejati lahir dari tatapan, sentuhan, dan waktu bersama.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik amal adalah salat tepat waktu, berbakti kepada orang tua, dan berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: Kisah Haru Distribusi Daging Kurban di Pelosok Negeri

Hadis ini menegaskan, bakti bukanlah sesuatu yang bisa digantikan oleh pesan singkat atau emoji hati. Bakti membutuhkan kehadiran nyata, bukan sekadar sinyal kuat.

IFA.id pernah menerima surat pembaca dari seorang ibu di Yogyakarta. Ia menulis, “Anak saya sibuk bekerja di Jakarta. Katanya tak sempat menelepon. Tapi saya sering lihat dia aktif di media sosial. Saya tidak marah, hanya rindu.”

Kalimat itu sederhana, tapi menusuk. Dalam dunia yang serba cepat, kasih sayang orang tua sering menjadi “notifikasi yang terabaikan”.
Bagi sebagian anak, menunda panggilan terasa sepele. Tapi bagi orang tua, satu panggilan bisa menjadi obat rindu, bahkan alasan untuk tersenyum seharian.

Halaman:

Tags

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB