IFA.Id - Puasa sering dipahami hanya sebagai ibadah yang menahan lapar dan haus. Namun, penelitian modern menunjukkan bahwa di balik praktik spiritual ini tersimpan kekuatan medis yang luar biasa. IFA.id mencatat berbagai penelitian terbaru yang membuktikan puasa mampu memberi dampak nyata pada kesehatan tubuh dan pikiran.
Bagi dunia medis, puasa bukan hal baru. Sejak era Yunani kuno, puasa digunakan sebagai metode penyembuhan alami. Kini, para ilmuwan membuktikan kembali bahwa berpuasa mampu mengurangi risiko penyakit kronis, meningkatkan metabolisme, dan memperpanjang usia sel.
National Institute on Aging (AS) menegaskan bahwa puasa intermiten bisa memperlambat proses penuaan. Artinya, puasa bukan sekadar ritual spiritual, melainkan bagian dari gaya hidup sehat yang relevan dengan kehidupan modern.
Penelitian di The New England Journal of Medicine menyebut bahwa puasa dapat menurunkan risiko penyakit jantung, diabetes, hingga kanker. Hal ini terjadi karena puasa menurunkan kadar gula darah, memperbaiki sensitivitas insulin, dan mengurangi peradangan dalam tubuh.
Baca Juga: Doa Setelah Sholat untuk Mengatasi Beban Hidup Berat
Di Indonesia, dokter-dokter spesialis gizi juga mulai merekomendasikan pola puasa intermiten bagi pasien obesitas. Hasilnya nyata: berat badan lebih terkontrol, tekanan darah stabil, dan kadar kolesterol membaik
Sistem pencernaan manusia bekerja tanpa henti setiap hari. Puasa memberi kesempatan bagi organ lambung, hati, dan usus untuk beristirahat. Saat itu, tubuh mulai melakukan proses autophagy: membersihkan sel-sel rusak dan membuang racun. Proses ini diakui oleh Yoshinori Ohsumi, penerima Nobel Kedokteran 2016, sebagai kunci regenerasi sel tubuh.
IFA.id mencatat bahwa dengan memberi jeda pada pencernaan, tubuh dapat lebih fokus memperbaiki kerusakan jaringan. Tidak heran, banyak yang merasa lebih segar setelah rutin berpuasa.
Salah satu manfaat medis terbesar dari puasa adalah menjaga kesehatan jantung. Menurut British Journal of Nutrition, puasa membantu menurunkan kadar lemak darah dan mengurangi risiko hipertensi. Dengan demikian, aliran darah menjadi lebih lancar dan risiko stroke menurun.
Baca Juga: Doa Mustajab Seusai Sholat Saat Hati Dilanda Masalah
Beberapa rumah sakit di Eropa bahkan menjadikan program puasa sebagai terapi tambahan bagi pasien jantung. Hasilnya menunjukkan perbaikan signifikan dalam waktu singkat.
Puasa tidak hanya memberi manfaat fisik, tapi juga mental. Ketika berpuasa, otak memproduksi lebih banyak brain-derived neurotrophic factor (BDNF), yaitu protein yang membantu sel saraf bertahan hidup lebih lama. Efeknya, daya ingat meningkat, konsentrasi lebih baik, dan risiko penyakit Alzheimer bisa ditekan.
IFA.id menemukan bahwa banyak pelajar yang merasa lebih fokus saat belajar di bulan puasa. Hal ini bukan kebetulan, melainkan dampak nyata dari perubahan biokimia dalam otak.
Selama berpuasa, kadar hormon insulin turun, sementara hormon pertumbuhan meningkat. Kondisi ini membuat tubuh lebih efektif membakar lemak dan memperbaiki jaringan otot. Tidak heran jika banyak atlet dunia mengadaptasi pola puasa intermiten untuk menjaga kebugaran.