IFA.id - Pernahkah ada momen ketika tubuh terasa ringan dan pikiran jernih setelah menjalani puasa? Bukan hanya sugesti, melainkan ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa puasa membawa manfaat kesehatan yang luar biasa. IFA.id merangkum kisah, data, dan fakta terbaru tentang bagaimana puasa tidak hanya memperkuat sisi spiritual, tapi juga memperbarui kesehatan tubuh manusia.
Bagi banyak orang, puasa adalah ibadah wajib atau sunah. Namun, di balik dimensi religiusnya, puasa kini menjadi perhatian dunia medis. Penelitian dari berbagai universitas menunjukkan bahwa berpuasa mampu memberi efek positif pada metabolisme, sistem kekebalan, hingga fungsi otak. Bahkan, National Institute on Aging (AS) mengungkap bahwa puasa intermiten dapat memperlambat penuaan sel.
Bayangkan tubuh seperti mesin yang terus menyala tanpa henti. Tentu suatu saat ia butuh jeda agar tidak cepat rusak. Begitu pula tubuh manusia. Puasa memberikan kesempatan bagi sistem pencernaan untuk beristirahat. Ketika tubuh tidak menerima asupan makanan terus-menerus, insulin menurun dan tubuh beralih menggunakan cadangan energi dari lemak. Hasilnya, berat badan bisa lebih terkontrol tanpa diet ekstrem.
Sebuah studi di Harvard School of Public Health menyebut bahwa puasa dapat meningkatkan sensitivitas insulin. Artinya, tubuh lebih efisien dalam mengatur gula darah sehingga risiko diabetes tipe 2 menurun drastis.
Baca Juga: Hikmah Berdoa: Rahasia Ketenangan Hati yang Terlupakan
IFA.id mencatat bahwa puasa juga berperan sebagai detoks alami. Saat tidak ada asupan makanan, sel-sel tubuh melakukan proses autophagy, yaitu “membersihkan” diri dari sel rusak dan toksin. Proses ini dianggap penting dalam mencegah penyakit kronis, termasuk kanker.
Seorang profesor biologi dari Universitas Tokyo, Yoshinori Ohsumi, bahkan mendapat Nobel Kedokteran 2016 berkat penelitiannya tentang autophagy yang terkait erat dengan praktik puasa.
Siapa sangka puasa bisa menjadi sahabat jantung? Menurut jurnal British Journal of Nutrition, puasa terbukti menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) sekaligus meningkatkan kolesterol baik (HDL). Efeknya, aliran darah lebih lancar dan tekanan darah menjadi stabil.
Di beberapa negara, bahkan ada program medis yang mengombinasikan puasa dengan diet rendah kalori sebagai terapi hipertensi. Hasilnya cukup mengejutkan: banyak pasien berhasil menurunkan tekanan darah tanpa obat kimia.
Baca Juga: Hadis Sahih: Doa Setelah Sholat yang Paling Mustajab
Puasa ternyata tidak hanya menyehatkan tubuh, tapi juga pikiran. Saat berpuasa, otak memproduksi lebih banyak protein yang disebut brain-derived neurotrophic factor (BDNF). Protein ini mendukung pertumbuhan sel saraf baru dan memperkuat koneksi antar-neuron. Akibatnya, daya ingat dan konsentrasi meningkat.
IFA.id melansir sebuah studi dari National Institutes of Health (NIH) yang menyebut bahwa puasa dapat melindungi otak dari penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson. Dengan kata lain, puasa bukan sekadar menjaga iman, tapi juga memberi tameng alami bagi otak.
Ada yang merasa lebih tenang saat berpuasa? Hal itu nyata. Saat puasa, kadar hormon stres kortisol menurun, sementara serotonin—hormon kebahagiaan—meningkat. Tak heran banyak orang merasa lebih damai, sabar, dan fokus selama Ramadan.
Psikolog kesehatan dari Universitas Indonesia bahkan menemukan bahwa puasa bisa meningkatkan kecerdasan emosional. Seseorang lebih mudah mengendalikan amarah, berempati, dan menghargai waktu.