IFA.id - Pernah ada momen ketika selesai sholat, seseorang buru-buru melipat sajadah, padahal hatinya masih ingin berdoa? Atau ada juga yang berdoa, namun tanpa benar-benar memahami apa yang ia panjatkan? Fenomena ini sering terjadi.
Berdoa setelah sholat adalah amalan yang sangat dianjurkan, tapi tak jarang ada kesalahan yang membuat doa kurang bermakna. IFA.id merangkum beberapa kesalahan umum dalam berdoa setelah sholat, agar ibadah bisa lebih khusyuk dan penuh keberkahan.
1. Terlalu Tergesa-gesa
Salah satu kesalahan paling umum adalah tergesa-gesa dalam berdoa. Banyak yang setelah salam langsung menoleh kanan kiri, lalu hanya melafalkan doa sebentar sebelum beranjak. Padahal, waktu setelah sholat adalah salah satu momen mustajab untuk berdoa.
Rasulullah SAW sendiri sering meluangkan waktu berzikir dan berdoa dengan tenang setelah sholat fardhu.
Baca Juga: Rahasia Doa Setelah Sholat agar Lebih Mustajab
IFA.id mencatat, doa yang dilakukan dengan terburu-buru sering kehilangan kekhusyukan. Hati tidak sempat menyelami makna doa, dan hubungan spiritual dengan Allah menjadi sekadar rutinitas.
2. Tidak Memahami Makna Doa
Kesalahan lain adalah membaca doa hanya sebagai hafalan, tanpa memahami artinya. Doa yang hanya diucapkan bibir tanpa meresap ke hati tentu kurang memberi dampak. Doa dalam Islam bukan hanya soal lafadz, tapi juga tentang kesadaran dan penghayatan.
Contohnya, doa “Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira”—jika dibaca hanya sekadar lafadz, mungkin hanya terdengar indah.
Tapi bila dipahami, doa ini mengandung cinta mendalam kepada orang tua, permohonan ampunan, dan rasa syukur atas pengorbanan mereka.
Baca Juga: Adab dan Tata Cara Berdoa Setelah Sholat Wajib
3. Mengandalkan Bahasa Arab Tanpa Ketulusan
IFA.id menemukan bahwa sebagian orang merasa doa hanya sah jika dilafalkan dalam bahasa Arab.
Padahal, doa bisa dilakukan dengan bahasa apapun yang dipahami. Yang lebih penting adalah ketulusan hati. Ulama banyak menekankan bahwa doa adalah percakapan pribadi seorang hamba dengan Tuhannya, sehingga bahasa tidak menjadi penghalang.
Mengucapkan doa dalam bahasa ibu justru bisa lebih mengena, karena hati lebih mudah menyatu dengan kata-kata yang akrab.
4. Tidak Menyertakan Doa untuk Orang Lain
Doa setelah sholat sering kali hanya berfokus pada diri sendiri. Padahal, Rasulullah SAW mengajarkan untuk mendoakan sesama muslim.