IFA.id - Pernahkah terdengar kisah seorang bayi yang baru lahir disambut dengan doa, cukur rambut, dan penyembelihan kambing? Tradisi itu dikenal sebagai aqiqah, sebuah ibadah yang tak hanya sarat makna spiritual, tetapi juga sosial.
Sejak zaman Rasulullah SAW, aqiqah menjadi bagian penting dalam menyambut kehidupan baru seorang anak, sekaligus wujud rasa syukur keluarga kepada Allah SWT. Namun, bagaimana sebenarnya sejarah praktik aqiqah, dan apa makna mendalam yang terkandung di baliknya?
Aqiqah dalam Islam berakar dari sunnah Nabi Muhammad SAW. Dalam riwayat hadis, beliau menganjurkan agar setiap bayi yang lahir disembelihkan kambing: dua ekor untuk anak laki-laki dan satu ekor untuk anak perempuan.
Tradisi ini bukan sekadar ritual formalitas, melainkan simbol penyerahan diri kepada Sang Pencipta.
Baca Juga: Nikah Beda Agama, Tren Baru atau Bom Waktu?
Menariknya, jejak aqiqah juga sudah dikenal di kalangan Arab pra-Islam, namun Rasulullah meluruskannya dengan nilai tauhid dan makna ibadah, bukan sekadar tradisi turun-temurun. Dengan demikian, aqiqah menjadi jembatan antara adat dan syariat.
IFA.id mencatat bahwa pelaksanaan aqiqah tidak hanya menegaskan identitas seorang Muslim sejak lahir, tetapi juga menumbuhkan rasa kebersamaan di tengah masyarakat.
Daging hasil sembelihan tidak dimakan sendiri oleh keluarga, melainkan dibagikan kepada kerabat, tetangga, bahkan fakir miskin.
Di sinilah terlihat nilai sosial aqiqah: berbagi rezeki, mempererat ukhuwah, dan menghadirkan keberkahan bersama. Bukan hanya ibadah individual, aqiqah adalah bentuk nyata kepedulian sosial yang hidup di tengah umat.
Baca Juga: Solusi Nikah Beda Agama: Jalan Tengah atau Mustahil?
Lebih jauh, para ulama memberikan penjelasan filosofis tentang makna aqiqah. Cukur rambut bayi, misalnya, melambangkan kesucian dan awal kehidupan yang baru.
Rambut yang dicukur biasanya ditimbang, lalu senilai beratnya dalam emas atau perak disedekahkan. Ini adalah pesan halus agar sejak dini, manusia belajar bahwa hidupnya tak lepas dari tanggung jawab sosial.
Dari momen kecil seorang bayi, Islam menanamkan kesadaran bahwa rezeki lebih bermakna ketika dibagi.