tafaquh

Perlawanan Intelektual Shaleh Darat lewat Tafsir

Senin, 25 Agustus 2025 | 04:00 WIB
Tafsir Jawa Shaleh Darat, senjata intelektual melawan kolonial.



IFA.id-
Ketika senjata tak mampu menandingi kekuatan kolonial, ada cara lain untuk melawan: ilmu pengetahuan. Itulah yang dilakukan Kiai Shaleh Darat, seorang ulama kharismatik dari Semarang. Dengan pena dan tafsirnya, beliau menentang hegemoni Belanda yang berusaha membungkam cahaya al-Qur’an.

Akhir abad ke-19, Hindia Belanda dikuasai politik etis. Pendidikan modern mulai diperkenalkan, tetapi akses terhadap ilmu agama justru dipersempit. Kolonial Belanda melarang penerjemahan al-Qur’an ke bahasa daerah. Tujuannya jelas: agar masyarakat pribumi tetap terikat kebodohan, tidak mendapat inspirasi dari al-Qur’an, dan mudah diarahkan pada nilai-nilai Eropa.

Dalam situasi ini, muncul sosok Kiai Muhammad Shaleh bin Umar al-Samarani—lebih dikenal sebagai Kiai Shaleh Darat. Ia tidak mengangkat senjata, tetapi mengangkat kalam. Ia menulis tafsir al-Qur’an dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab Pegon, berjudul Faidh al-Rahman fi Tarjamah Tafsir Kalam Malik ad-Dayyan. Sebuah karya yang bukan hanya tafsir, melainkan bentuk perlawanan intelektual.

Mengapa tafsir bisa dianggap perlawanan? Karena dengan menulis dalam bahasa Jawa, Shaleh Darat membuka pintu pemahaman al-Qur’an bagi rakyat jelata. Selama ini, mereka hanya mengenal Islam dari ritual, tanpa mampu mengakses makna ayat. Tafsir Jawa Pegon membuat mereka mengerti, merenung, dan berani memandang hidup dengan perspektif baru.

Inilah yang ditakuti Belanda. Sebab, al-Qur’an bukan sekadar teks suci, tapi juga sumber inspirasi perjuangan dan pembebasan. Jika pribumi memahami isinya, mereka akan sulit dijajah.

Contoh Konkret: R.A. Kartini

Salah satu bukti kekuatan tafsir Shaleh Darat adalah ketika R.A. Kartini merasa tersentuh mendalam saat mendengar tafsir beliau. Selama ini Kartini mengeluhkan ketidakmampuannya memahami al-Qur’an. Begitu mendengar tafsir al-Fatihah dalam bahasa Jawa, ia berkata bahwa untuk pertama kalinya al-Qur’an berbicara langsung kepadanya.

Kartini bahkan meminta Shaleh Darat menuliskan tafsir al-Fatihah untuknya. Peristiwa ini menjadi contoh betapa tafsir mampu membuka kesadaran, bahkan bagi kalangan bangsawan Jawa yang haus ilmu.

Baca Juga: Mengapa R.A. Kartini Terinspirasi Tafsir Shaleh Darat?

Tafsir Faidh al-Rahman tidak hanya menjelaskan ayat secara literal, tetapi juga memberikan nuansa sufistik—nasihat moral, spiritualitas, dan kepekaan sosial. Corak ini menjadikannya dekat dengan masyarakat Jawa yang terbiasa dengan nilai kearifan lokal dan kehidupan sederhana.

Dengan gaya ijmali (ringkas) dan tahlili (detail), tafsir ini bisa dinikmati baik oleh kalangan awam maupun santri terpelajar. Inilah kekuatan Shaleh Darat: menghadirkan tafsir yang membumi, tapi tetap menyentuh rasa.

Jika dahulu Shaleh Darat menggunakan aksara Pegon untuk melawan kolonialisme pengetahuan, maka hari ini perlawanan itu bisa dilanjutkan dengan media digital. Blog, podcast, hingga kanal YouTube bisa menjadi “Pegon baru” yang membawa tafsir al-Qur’an lebih dekat dengan masyarakat.

Pesan yang bisa kita ambil: tafsir bukan hanya urusan ulama, tapi juga alat transformasi sosial. Dari Shaleh Darat, kita belajar bahwa ilmu dapat menjadi senjata paling tajam melawan hegemoni.

Perlawanan Kiai Shaleh Darat tidak terjadi di medan perang, melainkan di medan ilmu. Dengan keberanian menafsirkan al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa Pegon, beliau menyalakan api pencerahan yang mampu melampaui larangan kolonial. Kisah ini membuktikan bahwa intelektual sejati bukan hanya berbicara, tetapi juga berani menulis dan mendidik.

Artikel ini disarikan dari buku Kajian Kitab Tafsir Indonesia karya Waliko M.A, dkk. (2021), yang mendokumentasikan jejak tafsir Nusantara sebagai warisan keilmuan bangsa.

Halaman:

Tags

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB