IFA.id- Siapa sangka, sosok R.A. Kartini yang identik dengan emansipasi perempuan ternyata juga pernah menemukan pencerahan dari sebuah tafsir al-Qur’an. Bukan tafsir berbahasa Arab, melainkan tafsir Jawa Pegon karya seorang ulama besar dari Semarang: **Kiai Shaleh Darat**. Pertemuan batin antara Kartini dan tafsir ini menjadi cerita unik tentang bagaimana teks suci mampu menyalakan api kebangkitan.
Kisah ini bermula pada akhir abad ke-19, ketika Belanda menerapkan politik etis. Sekolah-sekolah modern mulai dibuka, namun akses terhadap ilmu agama sangat dibatasi. Masyarakat Jawa kala itu mengenal Islam hanya secara kulit luar. Tafsir al-Qur’an dianggap tabu diterjemahkan, apalagi ke bahasa daerah.
Di tengah situasi inilah Kiai Shaleh Darat hadir dengan tafsirnya, Faidh al-Rahman fi Tarjamah Tafsir Kalam Malik ad-Dayyan*. Kitab ini ditulis dengan bahasa Jawa, menggunakan aksara Arab Pegon. Tujuannya sederhana: agar masyarakat Jawa, khususnya mereka yang awam, bisa memahami isi al-Qur’an tanpa terhalang bahasa.
Baca Juga: Nuzulul Quran vs Lailatul Qadar: Sama-sama Istimewa, Tapi Apa Bedanya?
Tafsir ini bukan sekadar karya akademik, melainkan sebuah perlawanan intelektual**. Kolonial Belanda melarang penerjemahan al-Qur’an, khawatir jika masyarakat pribumi tercerahkan. Namun, Shaleh Darat justru melakukannya, dengan semangat dakwah dan keberanian yang luar biasa.
Insight: Pertemuan Tafsir & Kartini
R.A. Kartini, gadis Jepara yang haus ilmu, merasakan sendiri betapa sulitnya memahami teks agama karena keterbatasan bahasa. Dalam surat-suratnya, ia mengeluhkan ketidakpahamannya pada al-Qur’an. Hingga suatu ketika ia mendengar tafsir Shaleh Darat dibacakan dalam bahasa Jawa. Saat itulah, untuk pertama kali, Kartini merasa al-Qur’an “bicara” langsung kepadanya.
Kartini terkesan begitu mendalam, sampai ia menulis bahwa tafsir ini membuka matanya. Ia akhirnya meminta Shaleh Darat menghadiahkan tafsir al-Fatihah dalam bahasa Jawa, agar ia bisa merenunginya lebih dalam. Bayangkan, seorang perempuan bangsawan Jawa yang terikat adat feodal, menemukan harapan baru lewat tafsir Nusantara.
Apa yang membuat tafsir Shaleh Darat begitu berkesan bagi Kartini? Pertama, penggunaan bahasa Jawa yang akrab. Kedua, gaya penafsiran sufistik yang menyentuh rasa, bukan sekadar rasio. Ketiga, keberanian Shaleh Darat menembus tabu kolonial.
Kartini melihat tafsir ini bukan hanya teks agama, tapi juga jembatan menuju kebebasan berpikir. Inilah yang kelak menyatu dengan gagasan emansipasi yang ia perjuangkan.
Baca Juga: Islam dan Etika Politik: Prinsip, Nilai, dan Implementasi dalam Kehidupan Bernegara
Kisah Kartini dan Shaleh Darat adalah bukti bahwa ilmu pengetahuan selalu punya daya membebaskan. Bagi masyarakat Jawa abad ke-19, tafsir Pegon adalah “pembebas” dari kebodohan yang dipaksakan kolonial. Bagi Kartini, tafsir ini menjadi cahaya yang menuntun langkah intelektualnya.
Di era digital hari ini, semangat itu tetap relevan. Tafsir tidak boleh hanya menjadi milik segelintir elit, tapi harus hadir dalam bahasa yang dekat dengan masyarakat. Media sosial, blog, hingga YouTube bisa menjadi “Pegon baru” yang membuka jalan bagi generasi milenial memahami al-Qur’an.
R.A. Kartini bukan hanya pejuang perempuan, tapi juga seorang pencari cahaya yang menemukan inspirasi dalam tafsir Shaleh Darat. Kisah mereka mengingatkan kita bahwa ilmu, ketika disampaikan dengan bahasa yang membumi, mampu melahirkan pencerahan yang abadi.